Category:

Dengan Cara Lain

Dariku yang tidak pintar mencintaimuSelalu menyajikan kecamukSemula hari-hari meramuNamun, tetap saja … Dariku yang tidak pintar mencintaimuSelalu melimpahkan kelesahSahaja ingin menggaguNamun, tetap saja … Dariku yang tidak pintar mencintaimuSelalu menyuarakan Continue Reading

Posted On :
Category:

Rindu – 2

Pasti, sebentar lagi …Hujan turun mengecup bumi Kau tahu sebabnya, kan?Karena aku merindukan pagimuSapaan hangat di larik-larik cintamuMenjelma puisi indah yang kubaca sepanjang hari Pasti, sebentar lagi …Hujan turun mengecup Continue Reading

Posted On :
Category:

Kita …

Kita adalah dua tangan yang saling menggenggam. Menautkan jemari yang tak ingin melepas–karena dingin akan menyusupi. Tak membiarkan kehangatan pergi menjauh, yang seharusnya selalu mendekap. Kita adalah sepasang kaki yang melangkah. Continue Reading

Posted On :
Category:

Sketsa Waktu

Dari patahan hariAku terjurai di ranting waktuMenunggu angin beralih badai debuBadai yang biasa datang tak berundang Dari semburan debuAku terlempar di akar waktuMenunggu hujan jatuh menderasLarung bersama teramai kenangan Dari Continue Reading

Posted On :
Category:

Titipan Cinta

Ah, aku malu. Tiba-tiba aku merasa malu mencintaimu. Karena selama ini aku mengira sudah terlalu cinta–walaupun memang begitu adanya. Namun, apalah daya seorang perempuan yang tidak memiliki kekuatan apa pun? Continue Reading

Posted On :
Category:

Selalu Menjadi Pagi

Jadilah pagi untukkuSelalu membawa cahayaSetelah terpaksa lelap di gelap malam Jadilah pagi untukkuSelalu memberi kehangatanKarena raga dan rasa lelah memeluk gigil Jadilah pagi untukkuBeri aku cahaya sekaligus kehangatanAgar lelahku terlelap Continue Reading

Posted On :
Category:

Sejak Kapan?

Sejak kapan? Sejak kapan sorot mata itu menjadi aliran kasih sayang yang membuai? Aku tidak tahu pasti ….Aku merasa ada kehangatan yang senantiasa menyelimuti–dalam dingin-dingin yang panjang. Sejak saat itu Continue Reading

Posted On :
Category:

Pupus

Mungkin, aku tidak akan pernah sampai. Meski ribuan hari telah kulewati, meskipun banyak persimpangan telah kusiasati, kamu masih saja jauh. Sebab, hatimu tak pernah merentangkan jalan, agar aku bisa masuk.

Posted On :