Category:

Sekelumit Rasa

Sekelumit rasa masih tersembunyiUntuk cinta yang ingin bersuaLirih … kubisikkan satu namaDi balik helai-helai kerinduan Saat malam menjejaki heningLarik doa menggamit untaian asaRagaku masih bergemingSedangkan hati mengembara Sekelumit rasa ini Continue Reading

Posted On :
Category:

Embusan Sepi

Sepi bertiup menelusuri liku gelisahSejenak aku terpaku …Berharap berhenti di siniTak ingin melanjutkan sunyi–berkepanjangan Sepi berbisik lirih di penjuru resahSejenak aku termangu …Berharap waktu berputar kembaliIngin mengulang kenangan–terabadikan Tiba-tiba sepi Continue Reading

Posted On :
Category:

Derai

Kali ini … air mata jatuh lebih deras, karena aku sedang tak ingin melukai hati seseorang. Kamu. Dan pelupuk mataku masih tak mau berhenti menangis. Helaan napas dingin mendekap bulir Continue Reading

Posted On :
Category:

Sejak Kapan?

Sejak kapan? Sejak kapan sorot mata itu menjadi aliran kasih sayang yang membuai? Aku tidak tahu pasti ….Aku merasa ada kehangatan yang senantiasa menyelimuti–dalam dingin-dingin yang panjang. Sejak saat itu Continue Reading

Posted On :
Category:

Sendiri

Temaram kamar ini, meneteskan bulir hangat di sudut pelupuk malam. Bahwa ia ingin berkata, “Sebentar lagi, fajar akan datang dan menyongsong siang.” Semua kesedihan akan mengering dengan sendirinya. Setiap lekuk Continue Reading

Posted On :
Category:

Mungkin

Mungkin pagi sedang berbohongMemancarkan kehangatan ke segala penjuruTapi tidak ke hatikuDingin Mungkin degup cinta pun bersembunyiSenyap menyusupi relung hatiMemenjarakan getar-getar rasaMemaksa berhenti Mungkin aku tak tahu maluMasih saja mencintaMasih saja Continue Reading

Posted On :