Ah, aku malu. Tiba-tiba aku merasa malu mencintaimu. Karena selama ini aku mengira sudah terlalu cinta–walaupun memang begitu adanya. Namun, apalah daya seorang perempuan yang tidak memiliki kekuatan apa pun?

Karena sesungguhnya …
Cintaku tak pernah habis bukan karena terlalu cinta, tapi karena Allah yang menitipkan cinta-Nya untukmu. Karena itu aku masih terus mencintaimu. Tak pernah ingin menyerah mundur atau berhenti mencintai.

Sempat aku terusik oleh satu pertanyaan; untuk apa aku bertahan mencintai? Bahkan ketika aku belum mencari jawabannya, aku sudah menemukan sebab aku mencintaimu. Hanya karena Allah.

Mencintai karena Allah adalah keindahan yang tak memperdaya, kekuatan yang tak tertandingi, juga keikhlasan yang tak menuntut balasan.

Ya, memang begitu seharusnya aku mencintaimu. Dan aku ingin menjadi perempuan yang paling berbahagia, mencintai dan dicintai hanya karena-Nya. Sang Maha Cinta yang telah menitipkan cinta-Nya di hati kita; untuk selalu mencintai dan pantas dicintai.

Rina’s
Tanah Papua, 4 Februari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *