Tiba-tiba aku berada di suatu tempat yang asing. Sendiri. Tidak, melainkan ditemani oleh suara-suara yang tidak kukenali, tapi terdengar sangat akrab. Aku hanya terpaku di tempatku bertahan, agar tidak semakin jauh mengikuti suara itu, agar aku tetap di sini–di duniaku yang sebenarnya. Pertarungan itu nyaris membunuh alam sadarku berulang kali, tidak peduli seberapa kuat aku ingin hidup, bertubi-tubi masih bersikeras menyerangku–yang terbaring layuh.

Kehilangan diri sendiri kerap membuatku juga kehilangan arah, walaupun hanya untuk melanjutkan hidup yang tidak dihiasi ambisi lagi. Kehilangan diri sendiri tidak menyediakan ruang benderang, walaupun hanya untuk beristirahat meninabobokan delusi agar tertidur kembali. Kehilangan diri sendiri berkali-kali; aku pun tak berhenti belajar untuk menemukannya.

Langkah pertama, aku harus melihat dunia luar dari balik jendela. Dunia yang seharusnya memelukku hangat–bersama senyum mentari–dan saat itu … aku melihat sandal jepit hitam di depan pintu dan ia berkata, “Aku menemanimu.” Aku tak percaya. Aku ingin meyakinkan diri sendiri, masih menatapnya dibalik derai hujan yang turun dari pelupuk mata, “Jangan menangis, aku ada di sini dan kamu tidak sendirian.” Tanpa sadar aku menganggukkan kepala dan tersembul harapan baru, memang aku tidak sendiri lagi.

Sandal jepit hitam, ia yang selalu menepati janji untuk menemaniku di depan pintu. Ia menjadi tujuan untuk kutemui setiap hari. Bersahabat dengannya perlahan mengisi kekosongan di sudut lubuk yang tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang bisa memasukinya, sampai pada hari itu–ketika sandal jepit hitam mengalihkan mimpi pada impian.

Impianku untuk sembuh dari skizofrenia bukan mimpi. Dengan seorang sahabat, insyaaAllah semua akan baik-baik saja.
“Terima kasih …,” aku tersenyum bahagia pada pemilik sandal jepit hitam itu.
“Dengan senang hati.”
Dan mulai sekarang tidak ada alasanku untuk takut melewati delusi dan halusinasi, sahabatku selalu memiliki senyuman tulus; menuntunku ke dunia nyata.

Dia, seseorang yang selalu kubisikkan lirih di dalam doa-doa yang mengetuk pintu langit, “Ya Allah, berikan aku seorang sahabat, agar aku tidak sendiri menapaki takdir-Mu.” Skizofrenia adalah takdir yang terindah dalam hidupku, pasti karena itu pula aku dipertemukan dengan pemilik sandal jepit hitam.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *