Sejak kapan? Sejak kapan sorot mata itu menjadi aliran kasih sayang yang membuai? Aku tidak tahu pasti ….
Aku merasa ada kehangatan yang senantiasa menyelimuti–dalam dingin-dingin yang panjang. Sejak saat itu cintaku mulai menggeliat.

Sejak kapan? Sejak kapan suara itu menggetarkan dinding kalbu? Aku tidak tahu pasti ….
Aku tertegun menyaksikan debur debaran bergejolak–saat suara kita bersahut-sahutan. Dan aku menenggelamkan diri di dalam gelombangnya.

Sejak kapan? Sejak kapan bibirku melafalkan satu nama? Aku tidak tahu pasti ….
Aku melarungkan rasa dalam larik-larik cinta, yang tercipta dari pertemuan kata; kau dan aku.

Sejak kapan? Sejak kapan kujejaki elegi dalam kenangan? Aku tidak tahu pasti ….
Aku melangkah dalam sepi, yang melenyapkan bait-bait kasmaran; kehilangan.

Mencintaimu bagai raga tak bernyawa. Aku hidup dalam harapan tak bersayap. Karena kau telah terbang menemui Sang Pencipta–kembali pada cinta yang abadi. Aku menunggu, sampai tiba waktu kita dipertemukan kembali, dan jatuh cinta lagi.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *