Temaram kamar ini, meneteskan bulir hangat di sudut pelupuk malam. Bahwa ia ingin berkata, “Sebentar lagi, fajar akan datang dan menyongsong siang.” Semua kesedihan akan mengering dengan sendirinya.

Setiap lekuk kamar ini, akan menjadi kenangan yang mungkin menumpahkan lara. Dalam gelap gulita, aku menata derita, memisahkan luka dan air mata, kemudian merajutnya menjadi untaian cerita.

Di sudut kamar ini, aku tak kuasa menahan derai perih yang menghunjam. Tangisku merah, degup jantungku marah, sakitku parah. Perpisahan telah merobek-robek album indah milik kita. Serpihannya melayang entah ke mana ….

Di balik dinding kamar ini, aku menemuimu yang hendak melangkah. Aku terpaku. Suaraku tersekat dalam lorong-lorong sepi–dulu kau selalu memenjarakan cintaku di sana, hingga aku bisu. Dan aku hanya bisa menatapmu yang semakin menjauh.

Kesendirian menjadi kamar baru. Aku menyendiri dalam debaran sunyi, mencari-cari jati diri yang sudah terlalu lama bersembunyi. Kini, aku ingin menjadi diri sendiri. Karena itu, aku merelakan kau pergi, dan tidak memintamu kembali.


Nabire 00.40, 18 Juli 2019

2 thoughts on “Sendiri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *