Melukis kenangan untukmu, hanya itu yang ingin bunda lakukan. Jika nanti kamu sudah dewasa, itu pula yang akan memelukmu hangat. Untuk Athaya, bunda selalu ingin kamu bahagia … kini dan nanti.

Pertama melihatmu hadir di dunia ini, yang tidak bisa bunda lupakan adalah genggaman jemari mungilmu. Saat itu bunda bisa mendengar harapanmu, “Iya, Nak, bunda akan selalu menjadi sahabatmu, dalam setiap suka dan duka,” kita akan membuka lembaran hari bersama—yang akan kita tulis dengan beragam cerita cinta kita.

Pertama melihatmu bisa duduk dan berdiri, sungguh itu kebahagiaan yang tiada taranya. Lalu bunda menuntunmu untuk belajar berjalan, kamu dengan riangnya menyambut uluran tangan bunda. Kamu sudah bisa berjalan saat usia 9 bulan, dan berlari saat usia 1 tahun. Bunda bangga melihatmu!

Kamu yang tidak merasa lelah belajar dan pantang menyerah. Kemudian bunda memberi hadiah sebuah sepeda, kamu pun bersemangat untuk belajar, dan saat usia 2 tahun kamu sudah bisa bersepeda, “Luar biasa, Nak. Kamu hebat!”

“Uma”, “Bunna”, semua itu adalah panggilanmu untuk bunda. Bunda terus saja menyebutkan panggilan “Bunda” untukmu, dengan harapan suatu hari nanti kamu bisa dengan benar memanggil “Bunda”. Dan itu benar-benar bisa bunda dengar saat kamu berusia 3 tahun. Kamu dengan fasih memanggil “Bunda” untuk bunda yang tidak pernah berhenti menyayangimu ini. Mata bunda berkaca-kaca ketika pertama kali mendengar suaramu memanggil “Bunda”, terima kasih, Athaya. Itu adalah panggilan “Bunda” terindah yang pernah bunda dengar.

Kamu sering merengek minta mainan ini dan itu, bunda pasti akan membelikannya. Bunda bahagia jika melihat senyum bahagiamu. Mata yang berbinar, tawa riang gembira, dan kecupan sayangmu, “Makasih, Bunda. Athaya sayang Bunda.” Itu yang selalu kamu ucapkan setiap kali bunda membelikan mainan, dan itu pun menjadi kebahagiaan bunda—melihatmu bahagia. Bunda tidak bisa berhenti untuk membuatmu bahagia. Senyum manismu menjadi candu untuk bunda, yang selalu ingin bunda lihat setiap hari.

Juga pertama kali melihatmu memakai seragam sekolah, mata bunda tak ingin lepas menatapmu, “Kamu cantik sekali, Nak.” Kamu sangat bersemangat pergi ke sekolah. Setiap hari ada saja ceritamu tentang pelajaran dan teman-teman di sekolah. Satu hal yang bunda baru tahu, kamu pun tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Itu dapat bunda rasakan dari ceritamu, bagaimana kamu mengatasi masalah ketika berselisih dengan teman. Bunda bersyukur, kamu tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik. Kamu menyelesaikan perselisihan dan lebih mencintai persahabatan.

Athaya, kamu tumbuh semakin besar. Sekarang kamu sudah kelas 4 SD. Bunda juga terus belajar untuk menjaga dan mendidik dengan benar. Sesekali kita berselisih paham, kamu protes dan sering diakhiri dengan merajuk, “Maafkan bunda, Nak. Bunda tidak menuruti semua keinginanmu.” Karena sudah saatnya kamu belajar memilih dan memilah mana yang terpenting untukmu. Bukan hanya sekadar yang kamu inginkan saja. Namun, kebahagiaanmu masih menjadi yang terpenting untuk bunda. Kamu harus bahagia, walaupun kamu tetap belajar untuk mendapatkannya.

Kini bunda jadi mengerti, kenapa banyak sekali warna yang tercipta di cerita cinta kita, “Karena bunda sedang melukis kenangan untukmu, Nak.” Kenangan yang akan kamu peluk erat nantinya …

Melukis kenangan dari setiap bahagia yang datang dan dari setiap lengkung senyuman. Walaupun nanti bunda tidak bisa membersamaimu lagi, semua kenangan itu akan memelukmu hangat. Sehangat pelukan bunda.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *