Seberapa lama aku harus menunggu? Jika hanya menunggu pun, aku masih bersedia. Namun, dengan tetesan keperihan?

Aku ingin berhenti! Membiarkan waktu berjalan tanpa membawaku lagi bersamamu—yang dulu pernah memanahkan api asmara.

Aku ingin berhenti! Izinkan aku sendiri dalam degup yang tak beraturan ini. Mengenali lagi detak cintaku, aahhh, aku tak ingin melihatnya lagi. Aku tak ingin …. Sungguh-sungguh tak mau lagi.

“Sabar tak mengenal batas, cinta pun tiada mengenal akhir. Lalu kenapa aku ingin berakhir di sini? Mungkin aku terlalu lelah menunggu yang tidak bisa kau janjikan.”

Air mata ini tak boleh jatuh sia-sia. Setiap alur luka berkelukur menceritakan cinta kita—aku ingin menjadikannya kenangan saja—dan aku tak berdaya melanjutkannya lagi. Namun, air mataku masih saja menetes, bahkan semakin menderas.

 

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *