Semburat jingga menari di atas senja kali ini, sesekali menyapaku yang sedang duduk menikmati pertunjukan alam. Sangat indah, seindah gejolak di dalam jiwa yang sedang melontarkan degup cinta untukmu. Kamu, lelaki yang tidak pernah tahu … ada seseorang yang sedang ingin bertemu di jantung hatimu. Sampai kapan aku akan menunggu?

Waktu seakan merangkak, menyeret rasa ini yang terasa berat, semakin jauh aku semakin jatuh cinta, dan kamu masih bergeming di tempatmu—hanya tatapan kita yang berbicara. Biarlah, aku sudah memutuskan untuk mencintaimu, meskipun dalam rasa yang tidak bisa kita peluk bersama. Mencintaimu adalah kebahagiaan sekaligus keindahan yang tak terkira. Akhirnya kamu pun membenarkan itu; degup cinta bertemu dalam keheningan yang kita ciptakan.

Namun, setiap kali aku memohon pada rindu, ia hanya membungkam. Bahkan menggeleng ketika aku memaksa untuk dihadiahkan pertemuan. Sungguh, aku sangat bingung. Kerinduanku hanya menjadi nyanyian panjang dan terdengar sumbang. Mengiris hari-hari yang menolak untuk dijadikan kenangan. Sebegitu indah cinta yang aku rasakan, tapi kenapa air mata menghujani wajahku yang sedang merona? Entahlah ….

Bukankah saat ini kita sedang jatuh cinta? Tak ada jawaban, pun aku tak pernah lagi mempertanyakannya. Sebab sesering apa pun aku bertanya, jawaban itu tak pernah datang untuk menjelaskan. Kamu hanya ingin aku mengartikan tatapanmu adalah cinta. Kamu hanya ingin aku mengerti, sekalipun dalam diam cinta tidak pernah membisu. Debaran cinta selalu bercengkerama tanpa menghiraukan raga kita—memapah rasa yang tidak juga bisa bersatu. Hingga aku semakin lemah, ingin terpejam saja, dan mengabadikan keindahanmu di dalam mimpi. Aku tahu, cinta adalah kamu. Dan kamu hanyalah mimpi yang selalu menemaniku dari jauh. Mimpi terindah.

 

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *