Purnama semalam melukiskan wajahmu. Aku sempat merindu—tapi segera menepisnya. Seketika jantungku berdetak getir, mengalirkan getaran yang tidak lagi bermakna. Aku hanya pernah jatuh cinta.

Jika kau tahu, jatuh cinta hampir membunuhku dengan kerinduan, masihkah kau ingin menebarkan cinta? Cinta yang tidak bisa kau jaga, cinta yang hanya kau semai dan tidak membiarkannya tumbuh. Sampai aku mengenali cinta dari sudut sanubari yang terluka.

Jika aku tidak boleh jatuh cinta, kenapa kau mengundang rasa dengan tatapan teduh itu? Jika aku tidak boleh mencintaimu, kenapa kau biarkan aku bersandar di bilik hatimu? Dan masih ada ribuan tanya yang belum kau jawab ….

Cinta. Kata itu sempat membuatku ragu untuk jatuh cinta (lagi). Kata itu sempat meracuni pikiran, hingga aku tidak percaya lagi dengan rasa. Namun, akhirnya aku tersadar … jatuh cinta bukan pilihan untuk bertemu atau berpisah, jatuh cinta bukan alasan untuk berbahagia atau bersedih, jatuh cinta adalah tindakan hati yang memang bersedia untuk mencintai—tanpa direncanakan.

Dan aku—sampai detik ini—masih mencintaimu. Hatiku masih bersedia untuk mencintai lelaki yang pertama kali memperkenalkan cinta. Seperti itulah cinta yang telah kau titip di bilik hati, selalu berdetak seiring degup jantungku.

Rina’s

One thought on “Sudut Sanubari”

  1. May I simply just say what a relief to discover someone who genuinely knows what they are discussing over
    the internet. You certainly know how to bring a problem to light and make it important.
    A lot more people need to check this out and understand
    this side of the story. I can’t believe you’re not more popular given that you certainly possess the gift.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *