Setiap kali hati ini merasa penat, justru aku tidak ingin jauh darimu. Agar aku merasa yakin, bahwa dirimu adalah tempat ternyaman untuk beristirahat. Bahkan aku tak ingin menatap matamu, cukup terpejam dan percaya kamu bersedia.

Setiap kali aku gelisah, yang ingin kutemui adalah kamu. Mendengar suaramu menjadi pilihan untuk menenangkan gejolak, meski kamu tak acuh pun tidak apa-apa … aku hanya perlu waktu untuk bercerita. Mengurai kegelisahanku dalam larik hari kita.

Sepertinya jatuh cinta bukan sekadar ucapan yang kita perdengarkan, tapi  sudah melekapkan rasa di detak jantung kita—hingga aku merasa baik-baik saja asalkan kamu ada di sisi.

Lalu, bagaimana jika aku terluka? Jika cinta menghunus kesetiaan yang kudamba, apa yang harus kulakukan?

Jika aku pergi … apakah sakit akan mereda? Entahlah. Dan nyatanya aku sudah tersakiti.

Jika aku pergi … apakah itu pilihan yang terbaik? Entahlah. Dan aku memilih untuk bertahan.

Sayang, aku tidak bisa meninggalkan rumah yang pernah menyediakan tempat ternyaman untuk beristirahat, meski aku sangat ingin—karena kecewa yang menghunjam ini. Hari-hariku begitu senyap jika tidak mendengar suaramu, karena itu aku masih di sampingmu—berharap kekecewaanku akan lenyap.

Jika aku pergi … justru cinta menjadi pertanyaan besar. Dan aku tidak bisa menemukan jawabannya. Karena itu aku masih di sini—sambil menahan sakit—meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja dan masih jatuh cinta.

Setia adalah bersedia untuk menjaga kesetiaan tanpa alasan apa pun.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *