Aku tidak pernah bermimpi, akan merawat luka-luka itu sembari mengaku masih cinta. Bahkan aku tidak pernah berpikir, jika kamu adalah pelaku utama yang melukaiku. Entah karena apa … nyatanya aku sudah terluka.

Saat mata kita bertemu, sayatan luka itu semakin terobek—mata badai sudah memorakporandakan tatapan kita. Dan dengan kejamnya merampas cinta yang sedari dulu kupeluk. Satu-satunya cinta dari lelaki yang masih kuharapkan.

Aku ingin terpejam sebentar. Tidak! Aku ingin terpejam sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Karena aku tidak bisa bersikap baik-baik saja, sementara nadi cintaku semakin melemah. Aku harus apa?

Ketika aku mencoba berbagi luka itu—agar kita mengobatinya bersama—justru semakin parah. Karena kamu tidak tahu seberapa perih luka yang merawankan hati. Aku benar-benar terluka.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *