Entah angin apa yang bertiup di senja kali ini, tiupannya menyapu kekisruhan di hatiku dan menyapa wajah nelangsa. Aku tersenyum miris.

Entah suara apa yang menyelusup ke gendang telingaku, bertalu-talu mendendangkan cinta. Namun, aku tercengang.

Aku hanya menikmati pecahan suara ombak dan semilir angin yang menjadikannya irama. Hatiku terpaku pada keindahan senja tanpa menghiraukan degup jantung yang tidak beraturan. Aku butuh waktu untuk tidak cengeng.

Dan … akhirnya aku tahu, mencintaimu lebih berat daripada jatuh cinta.

Tapi … aku tidak ingin mundur—walau selangkah. Karena aku tahu siapa yang sedang kucintai, dan untuk apa aku harus bertahan. Sungguh keputusan ini membuatku lega.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *