Category:

Prahara

Seketika hujan membisu Ketika menyentuh wajah layu Aroma petrichor menguar Menyelusup ke relung bersuar Ragaku kaku Bibir ikut membisu Netra pun sudah buta Badai menerpa tanpa mata Serupa itu cinta Continue Reading

Posted On :
Category:

Pupus

Mungkin, aku tidak akan pernah sampai. Meski ribuan hari telah kulewati, meskipun banyak persimpangan telah kusiasati, kamu masih saja jauh. Sebab, hatimu tak pernah merentangkan jalan, agar aku bisa masuk.

Posted On :
Category:

Heart Steps

Kamu tahu, rasanya jatuh cinta? Manis? Ah, belum tentu. Jatuh cinta melulu perihal soal yang senantiasa mendapat rona merah muda. Jalan yang dilalui pun tak selalu aspal yang mulus. Terkadang, Continue Reading

Posted On :
Category:

Guratan Asa

Degup waktu menggerakkan malam Sepasang ragu dibiarkan tenggelam Tak ada tujuan Mengikuti denyut kerinduan Cinta telah lama bersemayam Menemani malam Mengeja air mata dan tawa Mendekap guratan asa Betapa panjang Continue Reading

Posted On :
Category:

Itu Cinta

Kutitipkan namamu pada awan yang selalu putih. Dan kalaupun awan berubah kelabu, aku menunggu nama itu luruh bersama hujan. Menyentuh; dengan rintik ataupun menderas, aku yakin itu cinta.

Posted On :
Category:

Siluet

Menatap sore yang bisu Hanya titik-titik air berbicara Membasahi mata hati merayau Membasuh ragu bersuara Dan aku menatapmu duduk kaku Menelusuri wajah yang dingin Serasa raga itu mengaku Bibir terkatup Continue Reading

Posted On :
Category:

Menaja Harapan

Ada cinta yang kutulis di lembaran baru kita, hari ini juga. Sekaligus kuhapus semua ragu yang pernah singgah di hati. Cinta memang begitu; selalu menaja harapan dan kata maaf.

Posted On :