Apakah kamu tahu? Aku pernah pergi dari hatimu. Menciptakan jarak untuk diriku sendiri … entah berapa lama. Aku memang tak ingat karena waktu terasa begitu panjang, bahkan seakan tak berganti.

Aku rindu. Meski berulang kali mengenyahkan kerinduan, aku tetap saja merindu. Aku sempat mencerca kerinduan yang tak tahu malu ini. Aku tak mau berbincang lagi, jika masih bertema rindu. Saat itu aku sangat membenci rindu.

Dan dari setiap kegundahan, aku merasa lebih baik sendiri. Tanpamu menjadi lebih tenang—kata batinku. Namun, aku menangis ketika mengatakan itu. Entahlah.

Kamu tahu? Aku memilih sakit jauh darimu, daripada kita dekat. Karena itu akan lebih menyakitkan lagi: menatap mata yang pernah menatap perempuan lain, mendengar suara yang pernah memanggil “Sayang” untuk perempuan lain, dan bersentuhan denganmu yang pernah menyentuh perempuan lain. Entah dengan cinta atau tidak, aku tetap saja merasa perih.

Sejauh apa jarak yang harus kubentangkan? Agar dadaku tidak nyeri lagi. Agar air mataku berhenti menetes. Agar aku mengingat senyumku kembali. Aku masih sakit, di tempat berdiriku sekarang—yang kukatakan sudah menjauh darimu.

Tolong jangan mengikuti, sampai aku yang kembali padamu. Dengan keyakinan; aku ingin kembali karena cinta, bukan yang lain.

Beginikah cinta yang tersakiti? Entahlah. Aku hanya tahu sakitnya menghunjam jantung hati. Aku hampir terbunuh, tapi masih ada yang ingin kupertahankan. Detak kita.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *