Desau angin menerbangkan butiran pasir
Mengikis istana kita sedikit demi sedikit
Sebenarnya ia ingin bertiup kencang
Meratakan dalam sekali embusan

Namun, angin masih punya perasaan
Tak ingin membawa kehilangan
Tak ingin bertiup sesuka hati
Untuk kita yang setia

Dan angin masih memberi harapan
Jika kesejukan itu masih ada
Jika kehangatan pun masih bisa tercipta
Hanya perlu cara terbaik untuk menyiasatinya

Tidak seperti dia yang mengaku angin
Bertiup hendak meratakan istana kita
Menyembunyikan kehangatan
Melenyapkan kesejukan

Tidak bisa berpura-pura menjadi semilir
Membuai kita dalam tipu daya
Berhentilah!
Itu sia-sia, karena kita masih setia

Memang benar, yang kita bangun istana pasir
Mengundang angin untuk menghancurkan
Menggoda badai yang sedari dulu mengawasi
Terapuh

Sekuat apa pun tangan kita menjaga
Angin dengan mudah menyelusup dari sela jemari
Sebesar apa pun pelukan kita menutupi
Angin tanpa permisi menerjang

Serupa itu dia memorakporandakan detak kita
Retak
Hancur
Tak bersisa

Kecuali kita mengingat kembali
Pernah ada cinta di antara butir-butir pasir
Pernah ada badai yang berdesir pongah
Meniadakan harapan

Kecuali kita mengingat kembali
Bukan istana pasir
Seharusnya istana yang lebih kuat lagi
Membentengi cinta

Kecuali kita mengingat kembali
Sakit ini parah
Tidak perlu polesan marah
Seharusnya dia menyerah

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 28 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *