Hanya karena aku sakit, pantaskah jika bersanding dengan dirimu? Dan karena aku sakit, haruskah bertanding untuk mendampingimu? Atau kamu ingin mengajakku berunding tentang kita?

Ah, bahkan aku menjadi tidak mengerti apa arti cinta untuk kita. Tiba-tiba bibirku kelu dan hati pun berkata pilu. Aku … aku tidak pernah memikirkan jika cintaku ini pantas untukmu dan cintamu pantas untukku. Aku hanya jatuh cinta, lalu itu selalu menjadikan diri kita pantas untuk dicintai.

Siapa pun aku dan kamu, apa pun takdirku dan takdirmu, aku hanya mengizinkan diriku untuk jatuh cinta. Tidak menuntut kesempurnaan yang kudamba, untuk dijadikan alasan sebab aku mencintaimu. Juga tidak berdaya mengupayakan kesempurnaan yang kamu cari.

Bahkan aku tidak pernah tahu sejak kapan jantung ini mendenyutkan namamu. Menjadi takdir kita untuk bertemu dalam cinta yang berkelindan. Sulit. Berkali-kali aku ingin berkelit. Namun, cinta tetap berkata cinta, meski aku merasa tak perlu mengucapkannya lagi. Cinta tetap menggetarkan rasa, tak ingin mengenyahkannya.

Lalu bagaimana aku bisa menjawab pantaskah cinta ini untukmu?

Aku harus apa? Untuk rasa yang selalu berdetak. Untuk cinta yang tak bisa membungkam.

Aku tidak ingin memenjarakan cinta di dalam takdirku. Namun, cintalah yang bersikukuh untuk berdiam di sini. Menemani kita dalam suka dan luka yang menjadikannya semakin kuat.

Tidak ada cinta yang pantas atau tidak pantas
Rasa yang kita punya selalu pantas untuk berdekap
Memberantas ragu hingga hanya ingin melekap
Biarkan detak kita berkata jujur dengan cinta yang pantas

Bahkan pertanyaan itu sempat menampar
Hatiku tak ingin mendengar
Terkoyak-koyak dalam kebimbangan
Mungkin cinta hanya sebatas angan

Entahlah
Aku lelah
Pertanyaan menghujani diri
Tak peduli pada gigil sanubari

Pun mega mendung berarak
Juga ikut menghujani kenangan berserak
Suaraku serak
Hatiku berteriak!

Pantas!
Aku tidak ingin memelas
Cinta tak mengizinkan kita berpisah
Sang Mahacinta telah bertitah

Jadi, apalah arti sebuah pertanyaan lusuh
Pernyataan kita lebih penting daripada mengeluh
Segala penjuru bagaikan fatamorgana
Pulanglah ke lubuk cinta merona

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 19 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *