Malam ini, aku sangat terkejut. Ketika mendengar suara hatiku berteriak. Meronta-ronta. Ia tidak peduli lagi pada raga tempatnya berdiam. Merusak bunga-bunga cinta yang berwarna pasi, layu, dan kuyu. Ada apa?

Ia tidak menjawab. Malah semakin menjerit ingin pergi. Ingin pergi? Mau pergi ke mana?

Ke mana pun yang bisa menerimanya dengan suka. Mencintainya dengan kasih. Hanya itu yang ia cari.

Aku bingung. Meraba cintaku, memastikan debarannya tak berlari. Sambil mengelusnya, aku berkata, “Baiklah, kita akan pergi, tapi bukan untuk meninggalkan.” Degup cintaku kembali bernada, meski bukan nyanyian cinta.

Sekarang aku di sini. Sendiri. Membawa cintaku beristirahat. Ada saatnya … aku hanya berdiri menepi, tapi tidak menyebutnya sunyi. Berbincang dengan cinta—diri sendiri—dan ia menunduk, hanya mengangguk ketika aku mengajaknya pulang.

Berulang kali kuucapkan, tidak ada sendiri yang bernama sunyi. Setiap waktu yang kukemas dalam diam, itu bukan sunyi. Aku hanya membawa cintaku untuk menjauh, supaya ia tahu bagaimana beratnya rindu. Agar ia memintaku untuk membawanya kembali padamu—lelaki yang aku cintai.

Dan … peluklah ia dengan cinta, kehilangan telah menamparnya hingga babak belur; jauh darimu lebih payah daripada bertahan di sampingmu. Ia adalah cintaku, peluklah aku.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *