Aku pernah menambatkan setiap senti cintaku di sini, bersama lelaki yang sangat kukagumi.
Tiada duanya lagi.
Setiap hari bersamanya menjadi nyanyian hati.

Dua roda sepedaku tertawa lepas, aku pun tergelak mengikuti kaki-kakiku mengayuh.
Hempaskan.
Hempaskan semua beban. Terbebas.
Angin riuh bertepuk tangan menguapkan peluh.

Ayah bilang aku pemberani.
Dan aku selalu mengingatnya ….
Hingga semua mimpi-mimpiku menjadi nyata.

Apakah dunia indah itu hanya bisa kukenang?
Kehangatan tak dapat kusentuh lagi, menghilang.
Namun, ayah telah menjadi napas.
Selalu kusayang.
Kita tak akan terpisah, meski kenangan tak bisa berulang.

 

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 10.02.2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *