Merentang waktu.
Terkesiap dalam pekat.
Menyusuri kenangan-kenangan tersekat.

Bisa saja aku lupa.
Namun, aku tidak pernah bisa lupa.
Dua purnama pernah menerangi hidupku.

Bermandikan cahaya peluh aku tergagau.
Bahwa aku pernah melihat sinar yang lebih benderang.
Bukan sekarang yang sedang memberondong.

Apakah aku sedang bermimpi?
Bertemu ibu dalam rinduan sepi.
Kini aku sudah punya ibu lagi.
Aaaah, tapi tidak sama ketika menyentuh hati.
Dulu belaian tangan bidadari, saat ini kebencian tajam menyoroti.
Meluluhlantakkan cinta yang tersemai.
Melalui kebencian, aku bersikeras mencintai.

Dua purnama yang kucintai.
Dari ibu dan ibu aku belajar mencintai.
Aku pernah bahagia dalam pelukan bidadari.
Aku pernah tersentak hardikan mengiris peri.

 

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 18 Februari 2018

One thought on “Dua Purnama”

  1. Having read this I thought it was really enlightening.
    I appreciate you spending some time and energy
    to put this article together. I once again find myself spending way too much time both reading and posting comments.
    But so what, it was still worth it!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *