Kala surya belum mengetuk langit timur
Gaduh terdengar di sudut tempat tidur
Mataku masih setengah terbujur
Aku tak mampu bertutur

Dentang sambaran
Panas meniupkan keangkaraan
Semakin membesarkan kobaran
Berlari-lari mengejar korban

Langkahku kaku
Ketakutan membeku
Bertekuk lutut ingin mengaku,
“Aku kalah dan ambillah nyawaku.”

Dan sepasang tangan kekar
Menyeretku keluar dari kamar
Berteriak meminta tolong di sekitar
Aku sempat mendengar

Kemudian gelap
Si Jago Merah masih melahap
Sarapan di pagi buta yang masih terlelap
Bahkan memakan senyap

Hingga riuh yang tersisa
Hingga puing yang tersisa
Hingga tetesan pilu yang tersisa
Membasahi abu jenazah yang tak bersisa

Ketika kesadaranku kembali pulih
Aku berada di ruangan serba putih
Sunyi berkata lirih,
“Yang pergi tak akan kembali.” Hatiku perih

Sepasang tangan kekar
Memelukku erat tanpa berujar
Diam menyayati jantung kami, nyaris tak bergetar
Kehilangan buah hati telah menjadi kabar

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 18 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *