Siapa kita?
Bukan siapa-siapa
Kita bukan siapa-siapa
Berjalan di atas bumi yang bukan menjadi milik
Berlindung di bawah langit yang bukan juga milik kita
Untuk apa bermahkota sombong?

Dengarlah
Kaki itu terlalu kuat mengentak
Lihatlah
Kepala itu terlalu tinggi terangkat
Sehingga tak mampu mendengar suara sekitar
Sehingga tak mampu lagi melihat sekitar
Apakah Jemawa namamu?

Kau menggeleng kuat
Dengan lantang berkata, “Aku bukan Jemawa!!”
Lalu, apa arti dari tindak tanduk yang tidak rupawan itu?
Anggak, aku berkata di dalam hati saja

Jemawa,
Aku masih memanggilmu seperti itu
Meski kau menolak keras
Meski kau semakin merutuk
Aku tidak punya pilihan lain untuk memanggilmu apa?
Seperti itulah aku mengenalmu

Masih bersungut-sungut
Kau menatapku dalam gulita gelap buta
Padahal kau mengaku cahaya yang menerangi,
tapi kehilangan benderang
Bahkan melarat untuk meralat pendarmu sendiri
Hatiku terenyuh

Aku masih ingat,
Saat kau bilang ingin menjadi lentera
Semarak menebarkan binar
Bertutur sangat teratur
Tanpa jeda berpikir

Namun, lihatlah dirimu sekarang!
Kau memang menjadi lentera,
tapi lentera hitam
Bagaimana cahayamu?
Gelap
Bagaimana ucapanmu?
Tajam
Dan bagaimana dengan tujuanmu?
Menyoroti dan menebas

Siapa kita?
Lirih aku bertanya, aku pun takut jika lupa siapa diriku?
Aku tidak ingin terperangkap dalam gelap

Aku bersikeras menolak!
Jika nama Jemawa tersemat di panggilanku
Jika lentera hitam tersangkut di diriku
Sungguh, aku akan pergi ….
Agar kegelapan tak menyebarkan pekatnya

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 15 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *