“Tolong, beri aku satu ruang kosong!” tanganku menggapai-gapai.
Tak ada yang bisa kuraih,
semua menjauh dan semakin menjauhiku.

Dan lagi-lagi aku memohon, “Tolong, beri aku satu ruang kosong saja …,” kali ini kedua tanganku saling berpelukan, menyelamatkan kehangatan agar tetap berdenyut.

Namun, tetap saja aku menggigil. Gigiku saling beradu. Mataku sayu, tapi memaksa untuk berpijar. Bergerak mencari-cari ruangan kosong. Nihil.

Dan ketika aku hampir terpejam, suara keras itu menghardik. Kedua bola mataku terbelalak layuh. Tidak punya nyali seperti lidahku yang masih saja melontarkan kata, “Aku ingin ruang kosong, to..loong..,” tanganku pun lebih berani menarik bayangan itu.

“Ruangan seperti apa yang kamu mau, haaah?!” dia masih saja membentak.

“Ruangan kosong dua kali satu meter saja, beratap langit, dan berlantai bumi.” Dia yang gantian terbelalak, bola matanya nyaris menggelinding.

Namun, aku tersenyum melihatnya. Karena keinginanku sudah sampai, aku ingin di ruangan kosong itu bersamamu. Kamu, yang pernah membenciku dan lupa menyayangiku sebagai amanah Sang Pencipta. “Aku anakmu, Ibu.”

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *