Aku si Pemalu. Perempuan berusia 25 tahun yang hanya tinggal sendirian di rumah ini, karena kedua orang tuaku sudah berpisah. Pergi meninggalkanku dengan satu alasan, yang sampai detik ini pun aku tidak mengerti kenapa itu bisa disebut sebagai alasan? Karena kami tidak cocok lagi, masih bergema suara mama dan papa di ruangan biru ini—yang dulu terasa hangat. 

Hanya ditemani sofa panjang dan TV yang kelihatan sudah ringkih, memoriku berputar ke masa sepuluh tahun yang lalu. Dulu ruang keluarga ini penuh dengan canda tawa, tapi sekarang …. Dulu aku selalu melendot di pundak mama atau papa, tapi sekarang …. Hanya warna biru yang bersisa di ruangan yang terasa semakin dingin. Warna dinding yang tidak pernah diganti, karena aku tidak ingin melupakan semua kenangan yang telanjur terukir indah di setiap sudutnya.

Mama, Papa, sebentar lagi aku akan menikah, aku berujar di dalam hati, mohon doa restunya, Ma, Pa. Dan aku sebenarnya sangat ingin mereka ada di sini, tapi berusaha untuk mengerti jika lagi-lagi mereka memberi alasan yang tidak kupahami. Mungkin takdirku hanya untuk dilahirkan di dunia ini saja. Hanya dilahirkan, bukan untuk merasakan kehangatan pelukan mama dan papa, Tidak apa-apa jika aku menjadi anak yang terlupakan, batinku kembali merintih.

Dan sebelum air mataku menetes, ada sepasang tangan yang merengkuhku ke dalam pelukannya. Dia, suamiku sejak sebulan yang lalu. Darinya aku kembali menemukan kehangatan yang telah lama hilang. Bersamanya pula aku kembali menata hidupku agar tidak lagi tertatih menapaki kesepian.

“Kamu kenapa sendirian di sini, Sayang?” Mas Bayu masih memelukku, “kamu lagi kangen mama papa, ya?” Aku hanya mengangguk tak ingin bicara.

Selama sebulan sejak pernikahan kami, aku selalu duduk di sofa ini sebelum tidur. Untuk berbicara pada mama dan papa—walau hanya menatap foto di album kenangan—untuk merestui pernikahanku dengan Mas Bayu. Nyatanya, aku hanya sendirian di ruangan biru ini. Dan selalu tersadar saat jemari Mas Bayu menyentuhku.

“Sekar, kita tidur, yuk. Kamu nggak boleh merasa kesepian lagi, kan ada Mas di sini,” dengan penuh kesabaran Mas Bayu menggandengku masuk ke kamar. Aku menurut saja, rasanya memang tidak berguna jika hanya memperpanjang harapan semu. Mama dan papa tak akan pernah datang, walau dengan dalih merindukanku.

Aku yang malu. Kata mereka dulu, aku si Pemalu. Sekarang aku benar-benar malu jika masih saja meminta pertemuan. Kebahagiaan yang sudah lama tergunting, terkoyak-koyak, dan serepih pun tak menyisakan cinta.

Kini, aku dan Mas Bayu yang memulai kisah cinta baru di rumah ini. Aku selalu melangitkan doa pada Sang Pemilik Cinta. Semoga cinta kami tumbuh dan bersemi sampai nanti menutup mata, dan izinkan kami bertemu kembali di surga-Mu.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *