Untukmu, Ibu.
Beribu-ribu kata tak cukup untuk meramu.
Mengucapkan rindu sudah terlalu kelu.
Air mataku membanjiri lubuk hati terbelenggu.

Jika saja waktu berkenan menyampaikan pesan,
maka kita sempat meluapkan semua rasa.
Aku akan berlari ke dalam pelukan cinta,
tapi takdir telah bercerita ….

Apakah aku mengerti jika itu duka?
Tidak.
Apakah aku mengerti jika itu kehilangan?
Tidak.
Apakah aku harus menangis?
Entahlah.
Aku masih saja tersedu-sedu.

Aku menangis saat duduk di sana,
tergugu-gugu dalam kegelapan gulita.
Menemani jasad yang terbujur kaku di depan mata.
Bidadariku tertidur tenang tak bernyawa.

Kupandangi sudut langit, berhiaskan pelangi kelabu.
Mengitari purnama berwajah sendu.
Sungguh, perpisahan tak lagi mengizinkan temu.

Ibu, tapi aku masih menunggu.
Setiap hari adalah harapan baru.
Mungkin saja Ibu akan mengetuk pintu,
tapi tak pernah terdengar.
Derap langkah pun senyap tak bersyair.
Meski berulang kali harapan ini bergetar, Ibu tak lagi berkabar.

Untukmu,
beribu-ribu doa kulantunkan tanpa jemu.
Biar gulana tak lagi memasung rindu.
Namun, aku masih saja merindu.

Memohon … bila suatu masa nanti kita bertemu.
Aku akan memelukmu, Ibu.

 

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 5 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *