Bila saja cinta itu salju, maka aku akan kedinginan terkepung di antara butirannya.
Semakin menggigil oleh embusannya yang menerbangkanku.
Bagaikan kapas putih yang melayang-layang berada di bawah titik beku.

Namun, jika cinta itu api, akankah panasnya membakarku?
Bisa saja.
Api tidak mengenal siapa pun,
ia akan membakar apa pun yang berada di dekatnya tanpa menunggu.
Bahkan ia tidak pernah memberi kesempatan untukku berlari dari perihnya luka.

Aku tidak takut pada dingin ataupun panas,
yang aku butuhkan adalah kehangatan cinta selalu memelukku.
Mengajakku bercengkerama dalam suka dan luka.
Mencecap setiap rasanya, dalam manis dan pahit yang silih berganti,
tapi tidak menyisakan kebimbangan.

Biarkan cinta menetap pada rasa dan getarannya yang tak pernah reda.
Tidak menguap menjadi awan,
yang tidak ada kekuatan menolak tiupan angin membawanya ke mana pun.
Tidak juga turun meluruh bagaikan hujan,
mengguyur kenangan tanpa bisa dihentikan.

Biarkan aku menetap pada cintamu.
Kamu adalah orang yang pertama menyentuhku dengan cinta.
Pun dari bibirmu,
pertama kali aku mendengarkan ungkapan “sayang”.
Aku belum pernah merasa dicintai, sebelum aku bertemu denganmu.

Kamu adalah rumah untukku,
memanggilku untuk pulang dan beristirahat di lubuk cintamu.
Berayun membuaiku di tengah bunga-bunga yang bermekaran.
Menyebarkan semerbak wanginya nan indah berseri.

Adakah yang lebih syahda dari ini?
Hari-hari yang kita rajut dalam suka dan luka.
Bersama anak-anak yang meramaikan pondok cinta kita.
Sinar yang berpendar tak henti berpijar,
menerangi kehangatan yang menyelimuti keluarga ini.
Dalam debaran jantung cinta, kita menua bersama. Syahdu.

Untuk sebuah rasa yang kupunya dan selalu kugenggam,
biarkan begitu saja.
Agar tidak ada yang berubah.

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 04.04.2018

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *