Jika resahku tak mampu bercerita pada mentari, maka aku akan menatap purnama yang masih setia mendengarkan. Bahkan hitungan menit dan detik pun tidak pernah usai menceritakan kisah kita. Merajut kerinduan dan mematri rasa yang bergetar. Aku tidak punya alasan kenapa tetap bertahan, kecuali hanya untukmu.

Sudah 1 jam aku menunggu, tapi bayangmu masih saja membias. Warna senja yang semakin gelap menyadarkanku kembali, bahwa kamu memang tidak akan pernah datang. Hingga aku tidak memberi batas pada senja, agar bisa menunggumu lebih lama lagi.

“Kak Panduuuuu!” suaraku bergema dan perlahan-lahan lenyap bersama angin laut yang membawanya. Hanya menyisakan sedu sedan yang mengiris luka kerinduan.

💖 💖 💖

“Nak,” ibu memeluk dan mengelus lembut punggungku. Aku semakin tersedu-sedu di dalam dekapan ibu, “Kamu harus kuat, Laras.”

“Aku ingin kuat, Bu. Tapi aku nggak bisa …,” suaraku berbisik pilu.

“Kuatlah untuk dia, Nak,” tangan ibu mengelus perutku. Sorot mataku bertanya-tanya, kemudian ibu tersenyum sambil memperlihatkan sebuah test pack yang terdapat dua garis merah.

“Bu, aku hamil?” aku sangat terkejut melihat hasilnya, test pack yang tadi pagi tak kulirik lagi, dan meninggalkannya di kamar mandi. Awalnya aku hanya ingin memastikan, karena sudah 2 bulan lebih tidak haid. Sementara kondisi badanku masih baik-baik saja, tidak ada gejala seperti perempuan hamil pada umumnya.

“Kamu akan jadi ibu, Nak. Mulai sekarang bangkitlah dari kesedihan yang nyaris menenggelamkanmu. Harus bisa menjadi ibu yang kuat!” kedua tangan ibu mendekap bahuku, mengalirkan kekuatan, dan membangkitkan daya cinta. Aku harus bisa bertahan!

💖 💖 💖

“Pandu, hati-hati, sayang.” Tawa riangnya membahana bersama angin laut yang menerbangkan layang-layang miliknya.

“Iya, Bunda,” kaki mungil Pandu masih terus berlari-lari di atas butiran pasir.

Dia mirip sekali dengan ayahnya. Dan aku memberikan nama yang sama untuk anak kita, agar dia selalu merasa dekat. Nama itu yang memeluk ke mana pun dia melangkah. Sekarang usianya 3 tahun, selama itu aku berjuang untuk menjadi bunda yang kuat.

Melihat bola matanya yang hitam, selalu mengingatkanku pada tatapan elang seorang Pandu. Hidungnya tidak begitu mancung tapi juga tidak pesek, persis seperti hidungku. Rambutnya ikal seperti kamu. Pandu adalah perpaduan antara kita berdua, buah cinta kita yang menjadi kenangan terindah darimu.

“Bunda, ada helikopter,” teriakan Pandu mengagetkan lamunanku. Baru saja aku membayangkan kamu yang terlukis tegas di wajah Pandu, anak kita.

Aku tertegun mengikuti arah jari Pandu menunjuk. Kembali teringat helikopter yang sudah mengantarkanmu pergi, meninggalkanku untuk terus menunggu di batas senja. Puing-puing helikopter yang menabrak bukit kapur di waktu itu, menjadi saksi bisu ketika kamu meregang nyawa jauh dari pelukanku.

Semoga kamu berbahagia di sana, tenanglah … karena aku akan menjadi bunda yang kuat dan terus berjuang untuk Pandu. Aku janji, akan menjaga kenangan darimu ini dengan sebaik-baiknya. Setetes embun segera kuhapus sebelum jatuh mengenai lengan mungil Pandu yang memelukku. Aaah, aku rindu Kak Pandu.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *