Senja tak pernah sama.
Apakah benar senja tak pernah sama?
Rasanya iya, tapi tidak tahu juga.
Aku hanya memainkan kata,
untuk menghibur hatiku yang sedang tak tertata.
Berantakan.

Kamu tahu kenapa? Karena senja-senja yang kita lalui bersama.
Pada langit yang sama, kita melempar pandangan.
Pada matahari yang sama, kita enggan menyuguhkan senyuman.
Kita terlalu sibuk memikirkan yang tak ingin kita pikirkan.

Untuk apa?
Untuk beribu-ribu kenangan yang pernah kita rajut.
Untuk bertumpuk-tumpuk rencana yang pernah kita susun.
Untuk sebuah keputusan yang sebentar lagi membunuh kita.
Aku dan kamu kembali menjadi asing.

Sejenak aku terdiam,
membayangkan jika hari itu telah tiba.
Saat tangan ini tak mungkin bersentuhan lagi,
berbicara pun tak berani saling tatap, bahkan ….
Aaah, sudahlah ….
Enyahkan saja! Aku rasa ini sangat menyiksa.
Mengingat seseorang yang seharusnya kulupakan.

Terima kasih, untuk sayatan luka yang mendalam.
Sakitnya begitu cepat melumpuhkan detak,
tak memberi jeda,
merampas.

Dengan langkah gontai aku menghampirinya.
Dia yang baru saja melempar palu itu berbunyi di pengadilan cinta kita.
Bertalun-talun menandakan sebuah kisah sudah tuntas.
Dan kini aku menyerahkan cintamu padanya,
peluklah sesuka hati, aku tidak peduli.
Dulu cinta ini menghunjam sanubari. Dulu? Mungkin saat ini juga masih.

Dan kamu, senja kita tak sama.
Melewati hari-hari pun tak pernah bersama lagi.
Senja tak pernah sama.
Memang senja tak pernah sama.

 

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 02.04.2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *