“Jika hidup hanya menceritakan kesulitan dan berjuang untuk bertahan, maka aku akan mengatakannya … bertahan adalah pilihan yang tepat, tapi berjuang itu lebih baik.”

Panggil aku Angga. Ya, nama itu diberikan oleh ayah dan ibu, sebelum mereka meninggalkanku di rumah nenek. Hanya karena aku dilahirkan cacat dengan wajah yang buruk rupa, mereka sangat malu.

Kenapa aku dilahirkan dengan wajah yang mengerikan? Mata yang miring ke bawah, bulu mata yang jarang, dan terlihat ada lubang di bawah kelopak mata. Berkali-kali aku menyelisik garis wajahku yang terpantul di cermin. Menarik kedua bibirku untuk tersenyum, bahkan senyumku pun terlihat mengerikan.

Setelah aku tahu Syndrom Treacher Collins adalah nama penyakitku, aku tidak banyak bertanya lagi kenapa wajahku seperti ini. Karena kelainan genetik langka yang dicirikan dengan perubahan bentuk wajah dan tulang wajah yang belum berkembang secara sempurna. Syndrom Treacher Collins ditemukan hanya 1 dari 10.000 kelahiran. Aku salah satu dari mereka yang terpilih. Namun, aku masih beruntung, karena orang dengan Syndrom Treacher Collins umumnya memiliki inteligensi normal.

Aku hanya bersahabat dengan diary biru. Setiap hari aku selalu menulis apa pun untuk melepas kesepian. Aku ingat sekali, dulu nenek pernah membawaku untuk bersekolah, tapi kepala sekolah meragukan kemampuan kecerdasanku. Lalu nenek membawaku pulang kembali ke rumah. Dan sejak saat itu juga setiap hari aku selalu belajar bersama nenek. Begitu besar jasa nenek membesarkan dan melayakkan diriku, untuk tumbuh normal dan merasa sempurna.

💕 💕 💕

“Nek, aku ingin menjadi penulis terkenal,” mataku menerawang jauh, melewati pekatnya langit malam menembus cakrawala.

“Pasti bisa! Kalau kamu terus belajar dan pantang menyerah, nenek yakin kamu akan menjadi penulis terkenal.” Aah, nenek selalu berhasil membangkitkan semangat. Cita-citaku kembali berkobar.

“Tapi wajahku …,” aku bingung mau melanjutkan ucapanku. Karena aku baru ingat, nenek sangat tidak suka mendengarnya. Jika aku menjadikan wajah yang buruk rupa ini sebagai alasan tidak berani maju.

“Wajah kamu nggak penting untuk dipertimbangkan. Kamu terlahir dengan wajah yang sempurna atau nggak, itu nggak mempengaruhi kesuksesanmu, Angga,” dan kalimat indah itu meresap ke relung hati hingga lubuk terdalam. Kesuksesan bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk kuraih. Mulai malam ini, aku tidak takut lagi untuk bermimpi.

💕 💕 💕

“Cinta dan Cita Bercerita” menjadi salah satu buku best seller di tahun ini. Sudah dicetak 2 kali dalam 1 tahun dan terjual lebih dari 10.000 eksemplar. Senyum merekah menghiasi wajahku yang tidak tampan. Namun, aku selalu mengingatnya, kalimat nenek yang selalu mendorongku untuk terus berjuang.

“Angga, ayah dan ibu kamu datang. Mereka ingin bertemu kamu, Nak,” mata nenek memberi isyarat padaku, agar menghampiri, dan memberi salam untuk mereka. Aku merasa canggung, bercampur gugup, dan entahlah ….

Jantungku berdegup kencang tak karuan. Nenek selalu menasihatiku, agar tidak membenci ayah dan ibu. Selama itu juga aku merasa baik-baik saja, tapi saat ini aku merasa sulit. Dengan langkah gontai, aku mencium tangan ayah dan ibu. Menunduk takzim. Bukan karena aku penulis novel dan sedang menjiwai karakter utama. Namun, sungguh cerita di pagi ini telah merobek-robek naluriku sebagai anak yang memalukan.

Lalu bertemu kembali ketika serepih harapan pun tak bersisa. Aku yang tak pernah berpikir akan ditemui lagi oleh kedua orang tuaku, tapi kini mereka ada di hadapan dan memberi pelukan terhangat. Aku belum pernah merasakannya, mungkin sejak terlahir di dunia ini. Mungkin.

Dengan keterbatasan fisik yang mengakrabi, justru aku merasa cukup. Karena aku mempunyai nenek yang luar biasa. Dan kini aku juga mempunyai ayah dan ibu yang kembali memelukku. Tidak apa-apa jika mereka pernah malu memiliki anak cacat, setiap insan memang membutuhkan waktu untuk berdamai dengan takdir-Nya. Tangga kehidupan menuntunku untuk terus naik. Aku memiliki impian dan berjuang untuk mewujudkannya. Panggil aku Angga, aku seorang penulis best seller.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *