Aku terlahir tanpa nama. Bahkan ibu meninggalkanku di bawah pohon, di tengah bunga-bunga yang bermekaran indah dan harum mewangi. Namun, tidak seindah kisahku.

Menjadi sendiri bukan keinginanku, apalagi waktu itu … aku hanyalah bayi mungil yang tak lucu lagi untuk ibu. Tak berdaya untuk berucap dan hanya bisa menangis tanpa tahu sebab. Sehingga beliau menidurkanku di bawah pohon ini. Sendiri. Sepi.

Aku tidak bisa membedakan antara siang dan malam, karena aku belum mengerti. Aku pun tidak tahu, kalau aku hidup dan sedang menjalani kehidupan. Cerita yang ibu mulai dari pohon ini. Bayi perempuan itu adalah aku, yang terlelap bersama embusan angin dan gerisik dedaunan.

๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ

Mataku menerawang, memandang nanar daun-daun yang jatuh di depanku. Aku sedang duduk di mana 20 tahun yang lalu, ibu membaringkanku di sini. Tanganku meremas daun yang berguguran, remuk redam seperti hatiku saat ini. Salahkah jika aku merasa terbuang?

Namun, aku tak pernah menyebutnya kemarahan. Karena aku masih saja merindukan ibu yang telah membuangku. Aku masih berharap pertemuan berpihak pada kami. Dan aku selalu duduk di bawah pohon ini, menunggu.

๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ

โ€œKamu anak yang baik, ibu memanggilmu Bunga karena sangat yakin, kamu akan tumbuh seindah bunga-bunga yang mengelilingimu di waktu itu,โ€ itulah yang selalu ibu ucapkan sambil membelai rambutku ketika hendak tidur, hingga mataku terpejam.

Dalam hati aku selalu menjawabnya, tapi aku ingin menjadi kupu-kupu. Selain indah, aku ingin bisa terbang. Melihat keindahan bersama sayapku yang tak berhenti mengepak. Hmmm, aku tersenyum membayangkannya. Ada seseorang yang sangat ingin kutemui, karena itu aku ingin terbang, mencari ibuku. Bukan bidadari yang sedang tidur di sampingku saat ini.

โ€œMakasih, Bu. Aku bahagia punya Ibu,โ€ tanganku melingkar di pinggang wanita anggun yang masih membelai rambutku. Aku mulai memejamkan mata. Menenggelamkan wajah di dalam pelukannya. Aku tidak ingin kehilangan detak yang selalu meninabobokan. Menidurkan kegelisahanku yang mencengkeram dalam pekat malam menyelimuti.

Detak ibu yang selalu menemaniku tidur. Ibu yang membesarkanku dengan pelukan cinta. Dari belaian kasih sayangnya, aku belajar tak membenci kehidupan yang kini kujalani. Dari setiap perkataannya, aku belajar tak berhenti mencintai ibu yang telah meninggalkanku.

Namun, tetap saja ibu yang kutunggu tidak pernah datang. Pohon itu hanya menjadi saksi perpisahan kami, bukan pertemuan. Dan aku tak pernah bisa menjadi kupu-kupu yang terbang mencari ibu. Sebab ibu sudah menjelma dalam napas dan detak jantungku. Kini aku bisa memeluk ibu setiap saat, di dalam pikiranku.

Meskipun begitu, aku masih ingin dipanggil kupu-kupu. Tanpa sayap tak pernah lelah menebarkan cinta, dari sepotong cinta pemberian bidadari yang sangat kucintai. Menggenggam jemarinya, aku berdiri dan belajar berjalan. Menapaki takdir Sang Pencipta yang memiliki cerita. Izinkan aku menjadi indah, menjadi Bunga untuk kedua bidadari yang kupanggil โ€œIbuโ€.

Rinaโ€™s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *