Berbicaralah lebih banyak, ceritakan semua yang kamu rasa. Agar aku percaya, bahwa kita sedang mencecap rasa yang sama.

Berdetaklah lebih kuat, memperdengarkan degup jantungmu yang sedang jatuh cinta. Agar aku percaya, bahwa kita dalam frekuensi yang sama.

Siapa aku dan siapa pula dirimu?
Kita bertutur dengan bahasa kalbu
Menebar serbuk kasih dari bejana peramu
Semerbak cinta memenuhi relung penandu rindu

Adalah kisah si Melati dan si Rumput
Bertemu di hamparan hijau tersaput
Jatuh cinta berlarut-larut
Namun, masih tersekat

Dan hujan kali ini dinikmati dengan air mata. Aku ingin kamu tetap di sini, menemaniku, bersama-sama menyesap aroma petrichor yang dibawa embusan angin dingin. Tapi baru saja kamu dipaksa pergi, meninggalkanku, Melati sendirian di taman ini.

Meskipun kamu berjanji akan kembali nanti, aku masih saja terisak-isak menyaingi guruh yang bersahutan. Apa salahmu jika tetap di sini? Kamu tampan dan sangat menawan. Aku selalu terpikat. Tapi kenapa kamu selalu disuruh pergi?

Berjanjilah padaku, datang dengan lebih tampan lagi. Kita bersanding menghiasi taman ini agar terlihat semakin indah. Aku percaya kamu akan kembali.

Jangan pernah pergi lagi. Berdiam saja di sini sampai aku percaya, bahwa kita memang Melati dan Rumput yang ditakdirkan-Nya untuk selalu bersama. Kamu tahu? Aku justru merasa sangat indah ketika tumbuh di sampingmu.

Jangan pernah pergi lagi. Berdiam saja di sini sampai aku percaya, bahwa apa pun yang kita hadapi nanti tidak akan memisahkan lagi. Aku tidak sanggup kehilangan. Pegang aku erat-erat. Sampai aku percaya.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *