“Diam adalah pilihan. Jika suara dan gerak hanya akan menyerak kenangan.”

Kadang diam harus dilakukan karena suara tidak lagi menentramkan. Berbicara hanya mengundang berisik dan mengusik. Bercerita pun akan menyeretku pada jemu yang bukan meramu. Jadi, memang diam yang harus aku lakukan.

Kadang diam harus dilakukan karena gerak tidak lagi menenangkan. Bergandengan tangan hanya mengalirkan kebas. Menghambur ke dalam pelukan pun hanya mengingatkan pada pilu. Jadi, memang diam yang harus aku lakukan.

Bagai batu tersusun agar menjadi bangunan yang kukuh, aku dan kamu adalah batu-batu itu. Berdampingan untuk saling melengkapi, berbagi tempat, dan menutupi celah. Kita bisa diam dalam ribuan malam, tapi tetap menghangatkan dalam kelam.

Untuk tetap kuat dan tidak runtuh, kita pun harus berdiam. Tetap pada posisi kita berdiri tanpa berlari, meski hujan dan panas yang memayungi. Bahkan badai guntur yang menyambar sekalipun, kita harus tetap diam. Sebab gerak akan merobohkan, maka diam menjadi pilihan.

Kata diam mengajakku berpikir bahwa dalam diam bukanlah hanya diam. Namun, diam untuk mengusir jerih, diam untuk berdamai pada perih, hingga menyerikan warna cinta yang sesungguhnya. Bahkan dalam diam pun, aku masih selalu mencintaimu.

Begitulah cinta. Tetap pada singgasana melintasi masa. Tidak peduli pada musim yang berganti, tapi rasa selalu bersemi. Tidak menggubris janji yang telanjur dikhianati, tapi selalu memberi waktu untuk memperbaiki.

Ternyata cinta tidak diam. Cinta selalu bergerak tanpa mengubah keindahannya, apalagi merusak. Cinta selalu memberi ruang untuk berdiam dan melepas keluh yang berpeluh. Semua yang kita rasa dalam terik dan rintik, itulah cinta.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *