Berderap debaranku menyusup ke relung berdetak. Diam seribu bahasa. Hanya duduk menundukkan rasa. Aku tidak ingin kamu tahu, jika aku ada dan sedang menikmati debaranmu.

Beri aku waktu, untuk menghitung hari yang kita ramu. Seberapa lama pun itu, aku ingin mengarunginya bersamamu. Lelaki biasa yang mencintaiku luar biasa.

Beri aku jarak, untuk bisa menatap setiap gerakan yang kita cipta. Seberapa banyak yang terlihat, aku pasti terpesona. Sebab kamu adalah keindahan yang tertangkap oleh kedua mataku.

Dan aku ingin kamu tahu …
Dengarkanlah baik-baik, aku pun tidak ingin mengucapkannya berulang kali, “Sayang, aku memilihmu karena kamu adalah lelaki biasa. Itu sudah cukup.”

Lelaki biasa yang mencintaiku biasa saja, tanpa gejolak kemarahan yang menampar kelemahanku. Aku lemah karena percaya kamu lebih kuat. Dan ada saatnya aku yang harus kuat untuk mendampingimu di saat lemah.

Lelaki biasa yang mencintaiku biasa saja, tanpa kebencian di sorot mata yang menggiringku pada sisi jurang. Aku takut, sungguh aku takut jika aku jatuh. Padahal aku percaya kamu akan selalu menjagaku agar tidak terjatuh. Sama seperti aku yang selalu ingin kamu tegak berdiri menjalani hari-hari.

Aku merasa cukup. Aku sudah bahagia. Jadilah lelaki biasa yang mencintaiku biasa saja. Begitu saja. Dan biarkan aku berdiam di dalam detakmu, menikmati debaran seperti biasanya.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *