Ada hari terindah yang pernah mengajakku untuk berjalan di atasnya, langkah ini ringan bagaikan kapas melayang-layang. Aku tidak ingat nama harinya, tapi aku tidak bisa lupa dengan seseorang yang memanggil namaku di hari itu.

Ada detik dan detak saling bercerita. Meski tidak semua orang bisa mendengarnya, kita menikmati cerita itu dengan saksama. Tidak meninggalkan satu diksi pun yang terlewat. Seolah kita sangat yakin, setiap pilihan kata itu … Memang tertuju untuk kita.

Ada gejolak asmara yang menyentuh relung hati. Aku tidak bisa mengungkapkannya, indah, sungguh begitu indah. Kamu adalah keindahan itu. Aku terperosok dalam luapan rasa, dan kamu membiarkanku tenggelam di dalamnya. Bersamamu.

Ada perih yang mengentak detak jantungku, saat aku tak bisa lagi menyentuh keindahan itu. Kamu menghilang di ujung senja yang selalu kita nikmati bersama. Entah ke mana. Entah di mana. Semilir luka bertiup menerbangkan asa, menguap dan aku kehilangan rasa. Tapi tidak cintaku, sudah tertanam dalam di sini. Di hati yang pernah kamu pilih untuk bersinggah.

Ada lembaran usang tapi tetap indah untuk dibaca, kisah kita yang tak pernah usai meski tak lagi bercerita. Aku pernah mencecap berbagai rasa yang mendebarkan, tak ada yang lebih kuat dari debaran kita. Aku pernah menikmati keindahan lain yang tersaji di depan mata, tak ada yang lebih memesona dari keindahan yang pernah kita ciptakan. Karena itu aku sekarang mengerti, kita tetap indah dalam kisah yang tiada berakhir. Meski pertemuan tak berteman lagi, meski kerinduan hanya alunan yang tak bernada.

Tanpa itu semua, aku masih bisa menikmati keindahannya. Tanpa pertemuan dan nada pun, aku bisa mengenali. Cinta kita memiliki langgam, meski tak bisa tergenggam.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *