Pagi ini hujan turun mengetuk jendela. Tanganku masih lemas menyingkap tabir, gelap. Mentari pun enggan menunjukkan wajahnya. Aku kembali menarik selimut, bersembunyi sambil menikmati tarian air yang bersenandung riang. Memecah kesepian di kamar ini, juga di hatiku.

Aku ingin terlelap, tapi mata tak sepakat untuk memejam. Hujan bahkan lebih berani menggedor jendela, mengancam ingin memecahkan kacanya. Oh, tidak!

Dengan berat aku berdiri dan melangkah, membuka bingkai kaca yang menghiasi kamar penuh kenangan. Terpaan angin kencang menyapu wajahku dengan titik-titik air yang dibawanya. Sebelum aku sempat menyapa, hujan dan angin sangat ramah tersenyum padaku. Dingin. Tapi aku suka dan sangat menikmatinya.

Tanpa kusadari pertunjukan alam sudah berakhir. Hujan entah pergi ke mana, angin pun tak permisi meninggalkanku yang masih terpaku. Sepi, aku baru tahu hanya kesepian yang masih setia menemani. Tak ingin menjauh.

Baiklah, biar aku berteman dengan kesepian ini. Kuberi nama agar bisa akrab memanggilnya, Rindu. Itu nama yang manis, semanis gubahan yang tertulis di lembaran jantungku. Hanya ada satu nama yang terukir indah di setiap helaan napas, dan aku merindukan pemilik nama itu.

Manis itu manis. Rindu, gelisah, berkecamuk, redam dan kembali berkecamuk, semua itu manis. Setangkup rindu dalam genggaman, kutitipkan pada setangkup tangan yang juga menggenggam rindu.

Tapi tangan itu tak dapat lagi menggenggam. Dingin, pasi dan kaku. Aku tergugu-gugu melepaskan tanganmu dari genggamanku. Kenangan manis kita tiba-tiba hambar dan tumpah berserakan. Siraman air mata tak kalah deras membanjiri, bersamaan dengan hujan di pagi itu. Pagi paling dingin yang pernah kurasakan.

Kini, setiap kali hujan turun, aku selalu mengingatmu. Seakan kamu datang dan menyapaku dengan rindu. Manis itu manis. Apa pun yang kuingat tentang dirimu, teraduk manis di cawan kerinduan yang tak pernah kosong. Aku merindukanmu. Sangat merindu.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *