Jika esok masih menyapa, bahkan aku tidak pernah tahu apakah aku masih berdiri dalam detiknya yang berderik. Aku hanya memiliki harapan untuk kehidupan di dalam genggaman. Berjalan di atas harapan itu dengan beribu-ribu harapan lagi. Ya, begitulah aku. Dan begitu pula kehidupan.

Tidak pernah putus harapan meskipun melintasi aral melintang. Terjal, landai, badai dan silir-semilir, hanya pergantian detik-detik yang tidak bisa dihentikan. Aku hanya diberi kesempatan untuk melewatinya dengan cara yang terbaik. Bisakah?

Bisa. Dengan rasa syukur yang tidak pernah putus. Berutas pada satu keyakinan bahwa Sang Pencipta mempunyai rencana yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, tidak terkecuali aku. Hamba yang berkelana di padang fana, tertatih dan terkadang lupa hendak berlari dengan kelemahan yang bergelayut. Sungguh aku lupa.

Tapi rasa syukur membawaku kembali. Pada kekuatan yang sesungguhnya telah dititipkan pada setiap insan, tidak terkecuali aku. Mengawali hari dengan kekuatan yang dititipkan ini, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk memeluk putriku tercinta. Menatap bola matanya yang memantulkan bayangan diriku sendiri. Menyampaikan pesan, bahwa aku harus bahagia untuk bisa berbagi kebahagiaan dengannya.

Gadis kecil dengan celoteh riangnya memenuhi ruangan 3×4 meter, berdinding dingin dengan warna pucat. Aku terbaring di antara tumpukan bantal dan guling. Sesekali duduk lesu dan kembali berbaring karena sesak terasa memijit keras dadaku. Aku memang lemah, tapi tidak ingin terlihat lemah di hadapannya, putri kesayanganku.

Aku hanya sedang memainkan peranku, sebagai bunda yang mengemban ujian dari Sang Pemilik Kehidupan. Dan aku masih bisa berbahagia dengan napas yang kadang tersengal-sengal. Aku masih bisa tertawa bersama putriku di tengah tangis yang merongrong. Aku hanya bisa berbahagia jika melihatnya bahagia. Itulah kebahagiaanku.

Hadiah terindah dalam hidupku, menjadi untaian cerita dalam bait-bait yang bersajak. Dia yang tak pernah mau melihat bundanya lemah. Dia yang tak pernah membiarkan bundanya kesakitan. Dia yang selalu berlari memelukku, setiap kali aku menggigil ketakutan. Dia bukan hanya putri untukku, tapi juga sahabat terbaik yang telah Allah hadirkan, bernada mengiringi lantunan kesepian ini.

Terima kasih Ya Allah, untuk hadiah terindah dari-Mu. Yang memberi kebahagiaan untukku, sama besarnya aku pun harus memberi kebahagiaan untuknya. Karena kami dua insan yang tertatih jika tidak saling menguatkan. Hanya berbagi kebahagiaanlah yang menegakkan raga kami, untuk berjalan di atas ketetapan cinta-Mu.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *