Menulis telah membuka mataku bukan hanya bisa membaca, tapi juga mendengar. Menulis mengajarkan cara terbaik untuk bercerita tanpa suara. Hanya melepas kata demi kata, menguntai rasa di dalam kalimat-kalimatnya. Menulis juga membawaku terbang tinggi, menyaksikan dunia hanya cukup membalikkan lembaran demi lembaran di udara yang bebas polusi. Menari di kaki langit, berhiaskan pelangi yang beraneka warna, dan mewarnai dunia.

Aku pernah sangat kecewa, mengimpit dada dan tidak menyisakan ruang untuk tertawa. Tapi ketika aku menulis rasa kecewa itu dan berulang kali pula membacanya, semakin berkurang derai air mata.

Aku pernah jatuh cinta, berbunga-bunga serasa dunia milik berdua. Lalu aku mengabadikan keindahan itu di dalam tulisan, ketika berulang kali membacanya, semakin bertambah kebahagiaan.

Bahkan aku pernah marah. Menulis semua gejolak yang menghunjam, biarkan aku melepas penat lewat kata yang memelesat. Setelah itu, aku merasa lebih baik dan kemarahan pun menguap entah ke mana. Hasilnya aku hanya membaca sebuah karya sastra yang sudah tergores di atas lembaran.

Ajaib! Itu satu kata untuk menyatakan indahnya menulis. Bahwa menulis mampu mengobati rasa kecewa, mengabadikan bahagia dan melenyapkan kemarahan. Menulis adalah cara terbaik untuk menyelesaikan apa pun yang belum tuntas. Itu yang mulai kupahami.

Jika menulis memang seindah itu … Akankah aku berhenti menulis? Sedangkan keajaiban selalu datang di antara aksara yang berkelindan. Melekap mengikuti jejak rasa yang terus melangkah, maka aku tidak mungkin berhenti menulis. Itu yang mulai kusadari.

Karenanya aku pun menjejakkan diriku sebagai penulis. Tidak ada keraguan. Sungguh, menulis telah mengajakku untuk bisa berdiri dan menjadi diri sendiri. Dan melalui tulisan aku bisa mengajak teman-teman untuk berkelana di dunia tanpa batas. Berjalanlah di atas kata-kata yang bercerita, kita akan belajar, berpikir dan memahami. Hidup itu beraneka rasa, selalu ada manis di setiap lapisan pahitnya.

Ciptakan keajaiban di setiap kata yang kita tulis. Biarkan ia meresap, menjelaskan apa yang belum kita mengerti dengan caranya yang indah. Hingga semua rasa berubah wujud menjadi karya sastra yang dapat dinikmati. Bukan hanya oleh penulisnya, tapi juga pembaca.

Satu kata artinya beribu-ribu bahagia. Semakin banyak untaian kata, semakin banyak pula untaian kebahagiaan.

Satu kata dapat mengobati beribu-ribu luka. Semakin banyak untaian kata, semakin banyak pula luka-luka yang terobati.

Satu kata untuk bercerita. Memulai kisah yang beralur dari awal, tengah dan akhir. Terkadang ada penyelesaian, tapi sering pula menggantung tanpa jawaban.

Satu kata yang memiliki banyak arti. Ah, ini bukan ambigu, tapi kaya makna. Tidak akan pernah habis meski menggalinya berulang-ulang. Bahkan semakin dalam akan terlihat lebih bercahaya. Menerangi sekitar tanpa pilih kasih. Tetap pada fungsinya untuk membuka jendela dunia.

Satu kata yang ajaib! Berteriak tapi tak berisik, menangis tanpa air mata, tertawa pun tak terdengar gelaknya. Mengubah gulita menjadi benderang, mengenalkan hitam bukan sebagai warna. Sedangkan purnama bukan tentang bulan yang sempurna, melainkan bisa menjadi apa saja yang ingin kita ceritakan.

Ajaib! Membolak-balikkan kejadian untuk dikembalikan lagi pada tempatnya masing-masing. Menulis hanya sebagai proses untuk menetralisasi keadaan, tidak menghilangkan fakta, tapi nyatanya selalu menjadi lebih indah.

Kalau kamu masih belum percaya, yuk mulai menulis. Buktikan keajaibannya. Kamu tidak akan pernah tahu sebelum memulainya. Aku sudah mencoba dan sekali lagi ingin mengatakannya, ajaib!

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *