Terdengar tangisan bayi memanggil nurani.
Hhhh, jika memang masih bersemayam dalam diri.
Tangisan yang menyayat hati, bercampur bau darah di sekitar.
Bukan karena dia baru terlahir.
Bukan karena ibunya diberondong pergi menemui Sang Pencipta.
Bau darah itu dari muntahan senjata-senjata yang berderap.

Sandiwara apa ini?
Apakah dia terlahir untuk menyaksikan dunia yang tak ramah?
Dihujani ledakan bom di sana sini.
Kekerasan brutal memaksa jiwa-jiwa meninggalkan raga.

Tapi dia masih bertahan.
Bersama saudara kembarnya yang juga masih menangis.
Tenggelam di tengah raungan pesawat tempur yang menderu. Kembali terdengar ledakan, susul menyusul.
Mengepung mereka dalam inkubator bawah tanah.
Meninabobokan mereka, agar tak mendengar lagi.
Gencatan senjata masih memuntahkan peluru-peluru tak punya tujuan.
Membumihanguskan kehidupan tanpa belas kasih.

Ghouta Timur mencatat sejarahnya dengan tetesan darah.
Tapi mereka terlahir di negeri itu bukan untuk berakhir.
Walau bisa saja kehidupan terpasung, bernapas dalam udara berbaur mesiu.
Kehidupan tetaplah berdetak.
Memiliki janji, kapan akan pergi dan sampai kapan akan menetap.

Meski rumah mereka tak beratap, ayah berujar agar tidak meratap.
Mereka masih meraung-raung ketakutan.
Dunia tidak aman.
Kematian menciptakan antrean panjang menunggu giliran.
Jangan ayah! Tetaplah di sini.
Tangisan mereka terdengar bagaikan doa-doa lirih yang lebih panjang dan melangit.

Ini bukan perang, tapi pembantaian.
Bukan hanya mencabut nyawa, tapi mematikan kemanusiaan.
Bukan hanya membungkam yang terjajah, tapi membisukan dunia.
Senyap. Dingin. Di tengah kobaran api yang menyala dan dentuman merajalela.

Membakar tekad untuk terus berkobar.
Mengiris-iris kerinduan akan kedamaian.
Semua sudah lenyap.
Menguap bersama peluh yang mengering.
Bahkan luka tak lagi meneteskan darah, pun air mata.

Kehidupan hanya sebuah cerita.
Peperangan adalah pilihan berita.
Medan pertempuran menjadi tempat bercengkerama.
Memainkan senjata di antara gelak sumbing dan keangkuhan.
Sebab nurani masih berujar, hanya tidak didengar.
Manusia tetaplah manusia dan tidak akan pernah bisa menjadi Tuhan.

Lalu,
Pantaskah merampas nyawa sesama manusia di ujung pelatuk?

 

Rina’s
Bumi Cendrawasih, 27.02.2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *