Cinta tidak sesulit itu. Cinta juga tidak bertiup dingin hingga aku terpaku kaku. Hanya karena aku sedang merindu. Aaah, ini sulit! Tapi aku tetap mengatakannya indah.

Karena kamu memang sesuatu yang indah dalam setiap cerita. Tidak pernah menjadi kenangan usang meski hamparan waktu memisahkan kita. Kapankah saat itu akan tiba?

Saat keindahan bukan hanya kata, tapi nyata untuk kita dekap bersama. Saat kita tak lagi malu untuk saling melepas anak panah dari netra yang membusur rindu.

Tapi … Bagaimana jika bukan aku yang menjadi bidadari? Segenap rasa telah menghanyutkanku dalam buaian asa. Aku jatuh cinta. Tapi ini cinta di waktu yang tidak tepat. Karena aku tidak pernah tahu, nama pangeran tampan yang sudah tertulis indah di atas ketentuan takdirNya.

Akhirnya, aku menandu resah berkelana. Membuang rasa agar tak lagi membuncah dan memecah ruah. Aku tidak ingin menunggu dalam kerinduan yang bernoda. Karena seseorang yang paling ingin aku rindukan adalah dia yang menjadi takdirku. Pangeranku.

Entah siapa, bisa saja kamu -aku masih berharap- tapi tidak berani mendahului takdir. Pada purnama yang enggan bercahaya, kutitipkan satu bayangan yang masih saja menggoda. Biarkan dia pergi. Jangan menyisakan jejak di hati. Aku tidak kuat.

Cinta tidak sesulit itu. Hanya aku yang sulit untuk menjaga hati agar tidak lagi merindu. Hanya aku yang masih berharap bahwa cintaku adalah kamu. Meniupkan kehangatan. Aku masih terjaga dalam penantian dan masih saja merindu.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *