Tak kubiarkan hari-hari berlalu meragu. Menunggu diriku yang masih tergugu-gugu pilu, menangis dalam tawa yang memecah. Sungguh sangat membingungkan. Aku masih sakit, itu yang akhirnya kusadari.

Skizofrenia memang sudah menjadi sahabatku sejak 12 tahun yang lalu. Merentang masa dalam lembaran-lembaran kenangan. Berhenti pada satu titik, di mana aku merasa sedih sekaligus bahagia. Dua rasa yang bertolak belakang tapi bertemu dan melebur menjadi satu. Aku.

Kala mentari menyapa, yang kutatap hanya gulita. Hatiku masih saja meronta, hingga tak berdaya …

Tapi sejak aku mengenal Sang Pencipta, jiwaku kembali tenang mengarungi asa. Tak selamanya dunia gelap merajalela. Aku punya cahaya dan cinta yang tak mereda.

Di titik itulah aku jadi mengerti. Bahwa kekuatanku ada karena Sang Pencipta yang menitipkannya. Bahwa aku bahagia dalam sakitku karena telah berdamai dengan takdirNya. Sedangkan kesedihan masih bersisa, hanya karena aku belum mampu membahagiakan purnama dan bintangku. Yang selalu mengitari dunia gelapku dengan cahaya yang mereka punya, suami dan anakku.

Dan Engkau membalut hatiku dengan cintaMu yang tak pernah meninggalkan. Sungguh aku merasa hangat dalam dekapan cinta dan kasih sayangMu, Ya Rabb. Dengan cinta itu pula aku selalu mencintai purnama dan bintangku, juga tak meninggalkan.

Aku akan selalu menjadi langit untuk mereka bercengkerama bersama. Langit cerah atau gelap, aku adalah tempat untuk cinta selalu bertemu. Engkau yang mempertemukan kami dalam cinta dan mencintai takdir ini.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *