“Jika hidup hanya sesingkat ini, haruskah aku menjalaninya tanpa ingin bersungguh-sungguh untuk bahagia?”

Tidak semua rasa dapat kita cecap bersamaan. Jatuh cinta, menyayangi, kecewa bahkan remuk hati, semua memiliki waktunya masing-masing. Hingga akhirnya satu rasa saja yang perlu aku kenang untuk terus mematrinya di hati, bahagia.

Sungguh bahagia selalu ada di semua rasa yang menjadi ketetapan untuk aku cecap. Hanya saja karena aku lemah. Karena aku tidak pandai memetik hikmah. Sehingga aku tidak bisa merasakannya, meski ia sangat dekat. Lalu apa yang menghalangiku?

Sejatinya seorang hamba tunduk pada setiap takdir dari Sang Pencipta. Begitu pula bahagia akan datang memelukku di saat aku ikhlas, bersyukur dan bersabar atas semua yang kurasa. Itulah kebahagiaan.

Jadi, haruskah aku meminta apa yang akan membuatku bahagia? Bukankah bahagia itu selalu ada? Pada kamu yang aku cintai, pada diriku yang (harus) selalu bersyukur. Aku ingin bersungguh-sungguh untuk bahagia. Bersama kamu.

Kita adalah kalimat cinta yang ditakdirkan-Nya untuk bertemu menjadi cerita. Sebuah cerita cinta. Hidup dan berbahagia.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *