Ada luka yang tidak bisa diobati dengan segera. Perlahan-lahan pun tidak bisa. Lalu bagaimana? Biarkan saja luka itu. Seiring waktu akan mengering dan sakitnya semakin berkurang.

Ada perih yang tak merintih. Menangis sudah biasa, maka air mata bukan lagi cara untuk mengutarakannya. Tersenyum saja. Setiap tarikan bibir akan meluaskan sisi hati yang sakit, hingga perihnya semakin berkurang.

Dalam hidup ini tidak ada yang bisa aku lakukan, jika itu berhubungan dengan orang lain. Sekalipun kekasih. Kenapa?

Karena aku tidak bisa mengontrol kebaikan di luar diriku. Dengan begitu aku tidak bisa mengendalikan apa yang akan aku terima. Lalu aku harus bagaimana?

Berjalan saja. Terima saja. Berputarlah bersama waktu yang terus berdetak. Mengentak setiap lara agar luruh bersama pergantian masa. Tidak ada luka yang tidak sembuh. Setiap musim yang berganti, akan menjadikan luka itu berganti rasa.

Dan pada hari ini, aku bisa merasakannya. Luka tak sesakit dulu. Perihnya pun semakin samar. Bahkan ketika aku mengingatnya … Air mataku tidak menetes lagi. Meski aku belum bisa tertawa lepas, aku merasa lebih baik dan masih baik-baik saja.

Luka ini mengajarkan aku untuk tidak takut terluka. Menguatkan aku dalam rasa sakit. Tapi jika kamu kekasihku, bisakah tidak usah melukaiku? Aku akan lebih manis jika tersenyum tanpa luka. Aku akan lebih ringan mencintaimu jika tidak sambil meredakan sakit.

Sepasang hati hanya boleh jatuh cinta. Duduk berdua di antara lengkungan pelangi yang memayungi. Tak ada rintik yang berderai, kecuali hujan yang kita suka. Tak ada debaran yang menikam, kecuali debaran jantung kita yang saling berkejaran.

Aku dan kamu pantas untuk bahagia. Bukan hanya jatuh cinta. Tapi berbahagia di dalam cinta kita. Mencintai dan dicintai dengan benar.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *