Saat gelap datang yang bernama gulita. Memelukku yang masih saja meronta. Berteriak pada malam yang tak lagi ramah. Purnama pun hanya menatapku yang terlihat lemah.

Terlara-lara aku menyusuri lorong hati yang sepi. Mencari cahaya yang bisa menerangi. Tapi hanya gelap yang masih kutemui. Dan aku terlalu malas untuk berlari.

Ketika menatap matamu yang hangat, sehangat jemarimu yang masih menggenggam. Sekejap aku memiliki cahaya dalam gelap. Hanya sebentar, tak mampu menarikku menuju benderang.

Mungkinkah karena langkahku sudah terlalu jauh? Mengikuti suara yang memanggilku menjejaki labirin kelesah. Aku bingung, tapi tetap saja tak berhenti. Entah apa yang kucari, aku pun tak tahu.

Berulang kali kamu memelukku, menenangkan badai yang terus mengguncang. Tapi aku tetap bergeming, membiarkan diriku terbang dan terhempas. Hanya menyisakan genggaman kita yang terlepas.

Lentera. Aku butuh cahaya. Yang bersikeras ingin menarikku dari gelap. Yang memekik agar aku meninggalkan gulita. Karena suara yang mengentak tak lagi mengejutkan. Aku perlu dipaksa untuk menyadari dunia yang nyata.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *