Bisakah aku memastikan esok masih menghampiri? Atau berpaling ke belakang dan menarik kemarin yang masih menatap penuh harap? Pastinya aku masih berdiri di hari ini, terpaku pada puguh namun tiada pasti.

Ketika aku percaya pada angin, yang berembus menerbangkan segala ingin. Tiba-tiba angin bertiup dalam putaran badai yang tak bersahabat lagi. Hanya membuatku terperangah, terengah-engah bertahan menghadapi serangannya. Masih tidak mengerti, kenapa angin tak bisa kukenali lagi? Padahal aku tahu, bukan begitu biasanya angin menyapaku.

Namun di lain waktu, angin datang kembali dalam embusan yang berbeda. Sepoi-sepoi melambai mengajakku bercengkerama. Membuaiku dalam wewangian bunga-bunga yang dibawanya. Sekejap semua kegundahanku lenyap. Berganti kegembiraan berkelindan dalam binar-binar asa. Angin memelukku lagi sebagai sahabat, akrab.

Tiada pasti. Dua kata yang akhirnya mengajariku pada dua kondisi yang tidak bisa dipastikan. Tapi itu tidak seharusnya mendatangkan resah. Lalu menjadi nestapa … membawa pergi semua asa. Berdiamlah dalam satu kondisi yang payah, jangan berlari untuk menghindari. Karena itu akan selalu mengikuti ke mana pun aku pergi.

Tidak ada yang pasti di dunia ini. Kecuali janjiNya untuk memanggilku kembali, ke dalam dekapan yang abadi.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *