Setiap lembaran adalah hari baru untuknya. Hari-hari disambut beriringan dengan takut yang menyergap. Tertawan  dalam keinginan untuk menyerah, tapi tak juga beranjak. Hanya memandangi setiap pagi di balik kabut yang tak mampu menyentuh embun.

Setiap lembaran ditulis rapi dan kemudian tercabik-cabik. Basah oleh tetes keringat dan derai air mata. Aku hanya menatapnya, tak bisa memeluk untuk menenangkan. Tapi aku ingin sekali berbincang atau mendengar tawanya. Dia sebenarnya periang, suka bercanda dan selalu bersemangat. Tapi apa daya …

Aku hanyalah sebuah pintu yang berdiri manis untuk menjaganya. Kadang pun aku tak berdaya untuk melindunginya jika dia sangat takut jika aku terbuka. Aku tak bisa menutup diriku sendiri. Padahal aku sangat ingin melakukannya. Entah apa yang telah membuatku sangat menyayanginya. Aku ingin dia merasa aman.

Bisakah dia mendengar derit yang kuucap? Tenang, tidur lah tanpa beban, aku akan menjaga.

Dia adalah mawar yang tak layu tapi juga tak berseri. Berduri tapi tak mampu melindungi diri. Warnanya masih merah menyala, tapi tak bersinar. Hanya tergeletak dalam helaan kelelahan, beruntai kalimat tak mampu diucap kecuali hanya satu kata yang sempat kudengar, “Takut.” berulang kali dia mengucapkan kata itu.

Lagi lagi aku ingin berderit, agar dia tahu bahwa aku selalu ada untuknya. Tidak usah takut.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *