Pemimpi tak pernah takut

Memeluk impiannya dengan erat

Tak mengaku kalah pada pekat

Bersikeras pada tujuan yang terlekat

Tentang impian yang sudah lama kusimpan dalam lubuk tersembunyi. Lama tak kusentuh karena aku terlalu takut. Kubiarkan waktu bergulir untuk menggerus desak yang mulai terisak. Aku mulai menyerah, pada ingin yang masih mengepak.

Tapi ia tak juga pergi. Bersikukuh menarikku untuk beranjak dari perih yang kuredam. Ketika aku hanya menatapnya gusar pun, ia masih terus mengajakku. Untuk apa? Karena aku akan hidup bersama mimpiku. Itu yang ia katakan. Dan aku tertegun.

Memang aku masih bernyawa tapi tak merasa hidup. Aku punya mimpi tapi membiarkannya tak tersentuh. Lalu ia bilang aku akan hidup di dalam mimpiku? Aaah, bagaimana aku bisa memahami itu sebagai ajakan atau ejekan. Aku hanya menggeleng lemah.

Tapi melihatnya masih kukuh pada tempat yang tak layak. Merasakan sentuhannya yang tak pernah berbalas. Aku mulai goyah. Aku mulai memikirkan apa arti kalimatnya, “Karena kamu akan hidup di dalam mimpimu.” hmmm, rasanya aku tahu apa maksud kalimat itu.

Terima kasih impianku, masih selalu menemaniku meski tak kupinta. Masih mengusikku agar aku tak hanyut dalam aliran duka yang menderas. Bahkan setiap tetes air mataku menjadi aliran baru yang mengajakku berlayar di lautan asa.

Aku pun mulai mengerti, bahwa tak ada yang sia-sia apa yang kurasa. Semua datang untuk menyapa, bukan mencela apalagi menamparku. Aku hanya diberi waktu untuk tertempa, sebagai pemimpi yang tak pernah takut. Meski akan melewati badai-badai berikutnya. Memeluk impian adalah caraku untuk bertahan.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *