Matanya menatap jauh ke depan, menelusuk celah-celah  dedaunan yang menggerisik. Lirih tertiup angin, berlari-lari saling mengejar di tanah yang selalu riang menyapa daun-daun kering itu. Ah, aku lihat dia tersenyum. Daun saja bisa membuatnya tersenyum. Apalagi dunia? Tapi kenapa dia tidak bisa tersenyum pada dunia?

Aku selalu menunggu saat seperti ini, ketika mawar pujaanku melepas lengkung sabit di bibirnya. Walau aku tahu, dia hanya tersenyum. Senyum bukan lagi jawaban kebahagiaan untuknya. Karena aku selalu melihatnya tersenyum dalam gema tangisan. Aku selalu melihatnya tersenyum dalam luka yang terperih.

Darinya aku belajar, bahwa senyuman bukan bahasa untuk kebahagiaan saja, tapi sebagai isyarat bahwa hidup masih bernapas mengarungi detak waktu. Terkadang waktu yang tak ramah menyapanya, pagi dan malam hanya pergantian antara terang dan gelap saja. Tak menyisakan jejak sajak di ujung senja untuknya.

Aku masih menatapnya tak berkedip. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat sorot mata itu tak memiliki rona, seperti wajahnya yang pasi. Bahkan dapat kudengar gemuruh di dadanya yang mulai berteriak nyeri. Aku pun merasa panik, tiba-tiba tak terkendali, dia berlari dan berbaring dengan napas yang memburu.

Setiap kali melihatnya takut dalam ketakutan yang masih tak kupahami, aku selalu ingin berderit agar dia tahu aku selalu ada untuk menjaganya. Dia menutup matanya dan kemudian aku tertegun memandanginya. Dia menyunggingkan senyum dan matanya masih terpejam. Ya, aku tahu apa yang sedang dirasakannya. Dia sedang menikmati dunia dengan mata hatinya.

Berbahagialah mawarku. Semoga suatu hari nanti dia bisa melihatku dengan mata hati,  bahwa aku selalu tersenyum padanya. Aku hanya pintu yang ingin menjaga. Agar tidurnya lelap dan tak terusik oleh suara-suara berisik. Aku sangat menyayanginya.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *