Setiap perjalanan yang aku lewati, akan menjelma dalam lembaran-lembaran yang terukir untuk dikenang.

Setiap lembaran memiliki halaman. Terkumpul dalam bab, bahkan menjadi kukuh ketika bersatu terjilid dalam jahitan buku. Kekuatan yang tak bisa kurengkuh jika tidak melintasi tempaan.

Setiap lembaran memiliki cerita. Deretan aksara berkejaran mengisi tempatnya masing-masing, hingga tersusun rapi dalam kalimat yang bersuara. Entah dapat didengar atau tidak, kata tetap melekatkan makna.

Dan … Setiap lembaran adalah semua yang telah kulewati. Dengan kepingan-kepingan rasa yang kugenggam dalam gelak dan isak. Mengendap menjadi kenangan dalam pahatan peristiwa. Terbit bergelayut pada mentari atau tenggelam mengikuti gulir senja yang lenyap di batas cakrawala.

Menjadi lembaran sama dengan membukanya untuk indah terlihat. Menghiasi setiap lembaran dengan berbagai cerita yang juga indah untuk dikenang. Jangan pernah menyia-nyiakan lembaran yang hendak ditulis. Karena tinta yang sudah kering, tidak akan bisa terhapus lagi. Pastikan itu sebelum membuka lembaran!

Pun ketika menyelipkan bunga-bunga untuk menutupi goresan tinta yang salah, tetap saja lembaran itu sudah nyata. Tidak bisa memaksanya untuk menjadi taksa. Karena arti salah adalah salah. Seberapa banyak cara untuk menyamarkannya, tetap saja salah. Kecuali membuka lembaran baru dan menulisnya dengan benar.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *