Aku hanya pernah merasa kesepian. Mungkin saat ini juga masih kesepian. Mengapa aku menulis ‘mungkin’? Karena kesepian menjadi taksa untukku. Tidak benar-benar ada, tapi selalu memaksa hadir.

Aku berada di ruang yang selalu sepi. Tak ingin kudengar suara-suara, selain suara gemercik air yang menenangkan. Bersahabat dengan dinginnya yang menyejukkan, bercerita bersama setiap tetesannya.

Dalam hening aku mendengar tetesan air mataku berdenting, menyatu dalam air akuarium yang berputar. Dan aku hanya berharap, air dapat membawaku mengitari dunia seperti inginku. Biarkan aku bermuara pada cita yang menanti.

Jika dimensi ruang masih menyajikan kesepian yang harus kusaksikan. Izinkan aku, berkepak pada dimensi waktu yang bisa membebaskanku dari jeruji sepi. Aku ingin bersayap dan mengitari duniaku. Bukan tentang sepi. Tapi impian yang menepi.

Menulis telah menumbuhkan sayapku, mengajakku untuk berkepak-kepak, hingga aku dapat terbang ke mana pun yang kuinginkan.

Menulis telah menjadi dimensi waktu untukku, aku tak dibatasi oleh ruang sepi, tak ada lagi nyanyian kehilangan kecuali hanya kumpulan cerita-cerita.

Hidupku pun adalah cerita. Menjadi tulisan yang menggores setiap lembaran. Aku menulis untuk berbahagia, dalam dimensi waktu yang merentang sayapku.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *