Menjadi bulan sebentar saja. Berdiri di dalam pekatnya malam. Sendiri. Tanpa bintang menghiasi langit yang membentang luas. Apalagi matahari, pasti tidak akan mungkin mendampinginya, kecuali bertemu di saat gerhana yang tidak bisa mereka rencanakan.

Rintik pun enggan menemani, meski biasanya sangat lincah dan berlomba untuk membasahi bumi. Keceriaan yang selalu menghibur bulan dalam lengkungan sabit yang bercahaya, bahkan tertawa penuh dalam lingkaran purnamanya. Meski hadirnya rintik selalu membawa dingin yang menyusupi, bulan tetap tersenyum.

Suara-suara riuh menepi, mendayu dan senyap tak bersisa. Hingga halilintar datang kembali bergemuruh, memecah keheningan yang baru saja tercipta. Namun bulan tetap bergeming pada tempatnya. Tidak ikut berlari dari sunyi atau memekik pada petir yang tiba-tiba mengejutkan dalam syahdunya gulita. Bulan tidak pernah peduli, apa pun yang dirasakannya.

Bulan tetap benderang. Bersinar menyoroti lubuk-lubuk tak pilih kasih. Selalu bercahaya tanpa kenal lelah, karena janjinya adalah menerangi malam, hingga fajar datang berganti peran. Hadirnya tak pernah mengusik, tak pernah menyakiti, hanya duduk diam di singgasananya dan membingkai ketaatannya pada Sang Pencipta.

Jadi bulan sebentar saja. Belajar menjadi taat tanpa syarat yang merantai. Menjadi bijak karena ikhlas mengemban amanah. Menjadi baik bukan karena pilihan, tapi kebutuhan yang akan mewarnai indahnya diri di muka bumi. Menghiasi dan bercahaya sepanjang masa dalam melangkahkan tujuan.

Maka, tidak cukup hanya sebentar saja. Tapi jadilah bulan dalam setiap napas yang berdetak, mendenyutkan kehidupan.

Rina’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *